Bullying MAN 1 Medan, Korban Dipush & Dipress

Berita, Kriminal125 Dilihat

KOARNEWS, Medan – Sebuah kasus bullying di MAN 1 yang terjadi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Medan, Sumatera Utara, viral di media sosial.

Korban berinisial MH (14) mengalami luka di bibir dan tangannya akibat penganiayaan yang dilakukan oleh kakak kelasnya dan mantan alumni sekolah tersebut.

MH pamit kepada gurunya untuk mengambil jurnal di Gedung MAN 1 Medan di Jalan Willem Iskandar. Namun, MH tidak kunjung kembali ke sekolah. Keluarganya pun khawatir dan berusaha mencarinya.(23/11/23)

Pada pukul 17.00 WIB, MH akhirnya ditemukan di sebuah tempat sepi di dekat sekolah. MH dalam kondisi mengenaskan. Ia mengalami luka di bibir dan tangannya. Selain itu, MH juga terlihat lemas dan trauma.

Ayah MH, RD, mengatakan bahwa anaknya dipaksa makan lumpur, mengisap sandal, makan daun, dan ranting oleh para pelaku. Para pelaku juga meminumkan ludah kepada MH.

“Saya sangat marah dan kecewa dengan kejadian ini. Anak saya masih di bawah umur dan seharusnya dilindungi,” kata RD.

RD pun meminta pihak kepolisian untuk segera menangkap para pelaku. Ia juga berharap agar pihak sekolah memberikan sanksi tegas kepada para pelaku.

Kepala MAN 1 Medan, Reza Faisal, membenarkan adanya kasus perundungan tersebut. Namun, ia belum dapat merinci kronologi kejadian.

“Betul ada kejadian seperti itu, namun sementara ini detailnya masih ditelusuri dengan pemanggilan siswa yang terindikasi dengan didampingi orang tua. Kasi kami waktu untuk mendapatkan keterangan yang lengkap, dari siswa dengan melibatkan orangtua siswa,” ujar Reza saat dikonfirmasi Kompas.com melalui telepon seluler, Sabtu (25/11/23).

Kata Reza, pihaknya juga akan meminta keterangan dari guru, wali kelas yang sedang bertugas saat peristiwa terjadi. Pihaknya juga telah menjenguk korban pasca-kejadian.

“Kami memohon doa atas kesembuhan dari siswa yang mengalami kejadian yang tidak kita inginkan ini,” pungkasnya.

Kasus perundungan di lingkungan sekolah merupakan masalah yang serius. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif, baik bagi korban maupun pelaku.

Bagi korban, perundungan dapat menyebabkan trauma, kecemasan, dan depresi. Korban juga dapat mengalami kesulitan belajar dan bersosialisasi.

Sementara itu, pelaku perundungan juga dapat mengalami masalah perilaku di masa depan. Mereka juga berisiko menjadi korban perundungan di masa mendatang.

Oleh karena itu, penting bagi sekolah untuk menerapkan program anti-bullying. Program ini dapat berupa sosialisasi, pelatihan, dan penegakan disiplin.

Sekolah juga perlu bekerja sama dengan orang tua untuk mencegah terjadinya perundungan. Orang tua perlu mengawasi anak-anaknya dan mengajarkan mereka untuk bersikap tegas terhadap perundungan.

Kasus bullying di MAN 1 Medan ini menjadi bukti bahwa perundungan masih menjadi masalah yang serius di Indonesia. Kita semua perlu bekerja sama untuk mencegah terjadinya perundungan agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang dengan aman dan nyaman.(MIS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *