Beranda Artikel Awal Terbongkar’nya Kasus Pemalsuan Tanda Tangan Sampai Dipanggil’nya Heri Santoso PT. PBP...

Awal Terbongkar’nya Kasus Pemalsuan Tanda Tangan Sampai Dipanggil’nya Heri Santoso PT. PBP Maersk Line Ke Subdit I Polda Sumut

51
0

SUMUT,’-KOARNEWS.COM,- Medan 9 – Juli – 2021

Kasus Pemalsuan Tanda Tangan yang diduga dilakukan pihak PT. Meratus terhadap Totok Budi Istriarso mantan kepala cabang pelayaran, Kini secara perlahan sudah hampir menemukan titik terang atas dugaan pemalsuan tanda tangan tersebut.

Dengan di panggil’nya kepala cabang (Kacab), PT. Pelayaran Bintang Putih (PT PBPP), Heri Susanto, oleh Subdit I Dirkrimum Polda Sumut, Pada Kamis (08/Juli/2021), sekira pukul 10:00 WIB. Menjadi suatu ketegasan hukum yang dilakukan pihak Polda Sumatera Utara bahwa kasus tersebut terus berlanjut serta tidak di peti es’kan.

Dikutip dari beberapa media online tentang kasus tersebut, “Bahwa Sejak (8/Mei/2020) totok budi istiarso tidak lagi bekerja atau menjabat sebagai Kacab di PT. Pelayaran Bintang Putih, serta pemalsuan surat kuasa dan tanda tangan’nya PT. Meratus Line pada (5/April/2021) lalu di Medan.

Saat (15/September/2020) totok budi istiarso mendapat informasi bahwa ada dokumen berkop surat PT. Meratus Line yang ditandatangani Direktur PT. Meratus Line dan yang mencatut nama’nya dan tanda tangan’nya sebagai kepala cabang PT Pelayaran Bintang Putih, “Saya tidak tau untuk apa dan atas apa PT. Meratus Line melakukan ini, seharus’nya apapun yang terkait dengan saya tidak lagi digunakan untuk kepentingan komersil, karena sejak 8 Mei 2020 saya tidak lagi bekerja di PT Pelayaran Bintang Putih,” jelas Totok lagi seraya menambahkan dari surat kuasa dan tanda tangan palsu tersebut terdapat indikasi PT. Meratus Line melakukan pemalsuan surat dan tanda tangan dengan menggunakan nama dan tanda tangan’nya untuk kegiatan komersial perusahaan tersebut.

Adapun tugas dan tanggung jawab kepala cabang sebagai berikut :
1. Membuat rencana kegiatan untuk perusahaan yang di pimpin.
2. Bertanggung jawab atas segala aktivitas yang berkaitan dengan perusahaan yang di pimpin.
3. Monitoring segala kegiatan kapal yang di ageni.
4. Bertanggung jawab terhadap kesejahteraan karyawan.
Dengan hal inilah menjadi dasar tuntutan pemalsuan tanda tangan yang dilakukan oleh pihak PT. Meratus terhadap totok budi istiarso.

Ditempat terpisah awak media mengkonfirmasi FR Nasution sebagai saksi dalam kasus ini menanggapi positif kinerja penyidik Poldasu. Menurutnya, kasus ini dapat dikatakan sebagai kejahatan Criminal Corporate yang dilakukan oleh perusahaan pelayaran besar, Jadi apabila benar siapapun yang menjadi tersangka’nya dalam masalah ini, baik itu pihak Pelayaran Bintang Putih (PBP), maupun PT. Meratus, maka akan terungkap kelalaian yang ada di pihak Otoritas Pelabuhan dan Syahbandar Pelabuhan Belawan.

Dimana, mereka sebagai badan negara berwenang dalam menangani administrasi bongkar muat dan pengiriman serta keluar’nya suatu barang yang dikirimkan menggunakan kapal juga kontainer melalui perusahaan pelayaran.

Kejahatan Corporate ini, bisa dikatakan karena bukan hanya dilakukan oleh individu/oknum, namun seluruh pemegang keputusan mengetahui bahwa surat palsu ini telah digunakan, tanpa adanya upaya pergantian kekosongan jabatan pada saat itu.

Herannya, apakah pihak Syahbandar tidak mengetahui prosedur atau aturan Kementerian Perhubungan, terkait pergantian Kepala Cabang sebuah perusahaan pelayaran.

Sepertinya terkesan adanya pemanfaatan surat tanda tangan palsu ini oleh perusahaan tersebut. Soalnya nama Totok Budi Istiarso, pada saat itu telah resmi resign atau mengundurkan diri.

“Terbukti dengan lamanya lebih kurang enam bulan waktu pergantian antara Totok kepada Avrio Alonso yang cukup jauh. Sementara pergantian Avrio Alonso kepada Astari hanya memakan dua bulan,”pungkas FR Nasution. (Red/Team)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here